Di sisi lain, tekanan inflasi Oktober 2026 juga tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, terutama pada kelompok makanan, minuman dan tembakau.
“Masing-masing memberikan andil deflasi pada bulan Oktober 2026 untuk komoditas terong sebesar -0,03 persen, daging ayam ras -0,02 persen, minyak goreng -0,02 persen dan jagung -0,01 persen. Selain komoditas pangan, penurunan harga emas perhiasan turut menahan tekanan inflasi dengan andil deflasi sebesar -0,02 persen, sejalan dengan koreksi harga emas di pasar global,” ucapnya.
Melihat hal tersebut, KPw BI Provinsi Lampung memprakirakan inflasi tahunan dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) Lampung akan tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen hingga akhir tahun 2026.
Namun demikian, sejumlah risiko perlu terus diwaspadai dan dimitigasi. Dari sisi Inflasi Inti (Core Inflation) risiko bersumber dari:
1. Volatilitas harga emas global seiring dinamika geopolitik, pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), dan suku bunga global
2. Potensi penurunan produksi kelapa sawit dan tebu akibat fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung dengan intensitas kuat hingga awal tahun 2027, sehingga berisiko mengganggu produksi CPO dan gula,
3. Kenaikanharga komponen chip global yang diperkuat oleh penguatan dolar AS dan berpotensi meningkatkan biaya impor serta harga barang elektronik.
Sedangkan, dari sisi Inflasi Bahan Makanan Bergejolak (Volatile Food), risiko yang perlu dicermati meliputi:
1. Peningkatan kejadian kebakaranhutan dan lahan (karhutla) serta menguatnya intensitas El Nino yang berisiko menekan produksi tanaman pangan dan hortikultura.
2. Panen gadu yang kurang optimal akibat kondisi tanah dan musim kemarau yang berpotensi mendorong kenaikan harga Gabah Kering Panen (GKP), sehingga meningkatkan biaya bahan baku penggilingan dan harga beras.
3. Persaingan pembelian gabah oleh agen dari luar Lampung yang berisiko meningkatkan arus keluar gabah dan mengurangi ketersediaan pasokan bagi penggilingan lokal.
4. Ketidakpastian kondisi cuaca maritim dan gelombang yang berpotensi menghambat aktivitas melaut dan pasokan ikan, sementara harga daging sapi masih menghadapi tekanan dari potensi kenaikan biaya produksi dan distribusi.
Sementara itu, dari sisi Inflasi Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices), risiko yang perlu diwaspadai diantaranya:
1. Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik dan penurunan stok minyak mentah AS yang berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM.
2. Kenaikan harga energi global, tingginya harga acuan LPG internasional, dan risiko gangguan jalur impor yang berpotensi meningkatkan biaya penyediaan dan distribusi LPG domestik, terutama LPG non-subsidi.
Meninjau perkembangan inflasi Oktober 2026 dan mempertimbangkan berbagai risiko inflasi ke depan, Bank Indonesia dan TPID Provinsi Lampung terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K sebagai berikut:
1. Keterjangkauan harga
2. Ketersediaan pasokan
3. Kelancaran distribusi
4. Komunikasi efektif. (*/SAN).

