Pantau Penyakit Udang, Riset Kolaboratif Koneksi Kembangkan Aplikasi Smartambak

oleh

Jakarta, Referensimu.com — Kemitraan Australia-Indonesia mengembangkan inovasi digital untuk membantu petambak mengantisipasi ancaman penyakit udang yang sering kali dialami dan merugikan secara finansial, Bandung (20/10).

Sektor perikanan memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan, mengingat kontribusinya dalam PDB baru mencapai 2,56 persen pada 2025. Salah satu komoditas unggulannya adalah udang, yang berperan penting dalam memenuhi permintaan ekspor sekaligus mendukung kebutuhan protein masyarakat di dalam negeri.

Namun, pengembangan budi daya udang masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama penyebaran penyakit di tambak.

Keterlambatan dalam mengenali dan menangani penyakit akan menurunkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) udang, sehingga berdampak pada produktivitas dan meningkatkan risiko kerugian ekonomi bagi pembudi daya.

Sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan tersebut, KONEKSI, kemitraan Australia-Indonesia di bidang
pengetahuan dan inovasi, mendukung penelitian bertajuk “Designing disease reporting and monitoring systems (DRMS), A gender-inclusive action design research to prevent disease outbreaks in shrimp farming in Indonesia.” Riset oleh
Universitas Padjadjaran (Unpad), bekerja sama dengan The University of New South Wales (UNSW) Australia,
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), PT Adhi Inti Nusantara Segar (AIN-SEA).

Genics Pty Ltd ini mengembangkan SMARTAMBAK, platform digital yang membantu petambak mengetahui indikasi penyakit, memetakan lokasi penyakitnya, mengakses informasi dari log harian tentang kondisi tambaknya, dan informasi di Tambakpedia terkait pengelolaan tambak udang.

“Kami percaya, riset dan inovasi bisa membawa perubahan. Termasuk bagi petambak udang skala kecil, yang sering kali terkendala keterbatasan sumber daya dan akses layanan ke laboratorium, untuk mengecek penyakit udang. Maka itu, peneliti Indonesia-Australia beserta mitra mengembangkan aplikasi SMARTAMBAK, melalui kemitraan dari
KONEKSI dan dipimpin oleh Universitas Padjadjaran. Kami mendukung adopsi temuan dan inovasi dari aplikasi ini
untuk mengatasi tantangan di lapangan, dan tidak sabar melihat bagaimana kemitraan dan aplikasi SMARTAMBAK ini berkontribusi ke budi daya tambak udang yang produktif dan berkelanjutan,” kata First Secretary Kedutaan Besar Australia di Indonesia Reiko Take.

Adapun data dari KKP menunjukkan produksi udang Indonesia mencapai sekitar 1,13 juta ton pada 2024, meningkat dari sekitar 941 ribu ton pada 2023. Mencermati potensi ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas pun
menerbitkan Blue Food Assessment yang memetakan peluang pengembangan pangan akuatik di Indonesia.

Peta jalan ini harapannya dapat mendukung target kemandirian pangan, sesuai prioritas pembangunan nasional kedua dalam RPJMN 2025-2029.

Sementara Staf Ahli Menteri Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut KKP Hendra Yusran Siry menyebut, udang
menjadi salah satu komoditas unggulan dalam pengembangan ekonomi biru Indonesia. Estimasinya, produksi udang
Indonesia per tahun dapat mencapai 52.000 ton, dengan nilai mencapai kurang-lebih Rp4 triliun per tahun.

Dalam meningkatkan produksinya, perlu dukungan ekosistem yang baik. Kehadiran aplikasi seperti SMARTAMBAK ini, misalnya, dapat juga diintegrasikan dengan platform lain di bawah KKP.

Terlebih jika adopsi pengguna, standardisasi data, interoperabilitas platform, dan tata kelolanya berkelanjutan.

Adapun Direktur Kelautan dan Perikanan, Kementerian PPN/Bappenas Mohamad Rahmat Mulianda menyebut, “Inovasi ini akan berkontribusi ke peningkatan produktivitas tambak, khususnya tambak semi-intensif, yang rentan penyakit atau masalah terkait lingkungan.

Dengan sistem digital, petambak bisa memantau pengelolaan kawasan
tambaknya yang kurang optimal, dan melakukan mitigasi jika ada penyakit yang berpotensi mengganggu panen atau produksi.

Pengelolaan limbah tambak, juga jangan sampai tidak terkontrol. Perlu juga untuk dipantau secara digital seperti ini.”
Peluang Pemanfaatan AI di Budi Daya Udang Peneliti Unpad Hamzah Ritchi, yang menjadi salah satu tim peneliti menyebut, hingga kini, penyakit seperti
myonecrosis (MIO), white spot syndrome virus (WSSV), black spot masih menjadi ancaman terbesar untuk budi daya
udang tambak.

Menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), aplikasi SMARTAMBAK di desain untuk
mampu memberikan diagnosis awal terkait penyakit, sehingga petambak dapat menggunakan informasi yang tersedia untuk mendukung pengambilan keputusan. im peneliti telah mengumpulkan dan memvalidasi 3.299 citra udang untuk mendukung pengembangan model AI sehingga petambak akan mendapat diagnosis berbasis basis data di platform.

Sementara masukan dari pelaku industri berkaitan dengan akurasi data, durasi diagnosis penyakit, dan penggunaannya
langsung di lapangan menjadi materi pengembangan lebih lanjut.

Sementara peserta diskusi sekaligus petambak muda dari Cirebon, Sakiro menyebut, dari pengalamannya, petambak perlu mengidentifikasi berbagai faktor ketika menemukan dugaan penyakit.

Sejumlah faktor seperti lingkungan, morfologi, dan kebiasaan dari udang perlu dicek, sebelum menemukan diagnosis akurat. Namun kebanyakan petambak tradisional, yang memiliki sumber daya dan akses terbatas ke layanan laboratorium, acap kali melakukan deteksi berbasis kebiasaan, dengan mengecek aspek visual yang terlihat.

“Di tahap yang lebih maju, kita memerlukan semua data dari visual hingga hasil laboratorium untuk melakukan deteksi mendetail. Sementara setelah ada aplikasi ini, hanya perlu memasukkan data dan foto untuk mendapat dugaan dari penyakit. Tentunya ini cukup membantu karena petambak tradisional, yang rata-rata sudah berusia tua dan memiliki
akses informasi terbatas, bisa mendapat konklusi sementara,” kata Sakiro.

Ke depan, ia berharap seiring dengan regenerasi petambak dan tata kelola tambak udang yang lebih baik, produktivitas udang di Indonesia semakin meningkat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *